Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.


Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).



Kakeknya, Kiai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.
Semenjak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Hasilnya, ia diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kepandaian yang dimilikinya.
Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Di pesantren Siwalan ia belajar pada Kyai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.
Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah. Di sana ia berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis.
Dalam perjalanan pulang ke tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng, menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.
Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bidat. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari.
Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.
Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama, tetapi ditolaknya.

Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy’ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng.

Sesudah Indonesia merdeka, melalui pidato-pidatonya Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat para pemuda supaya mereka berani berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 karena pendarahan otak dan dimakamkan di Tebuireng. ►e-ti/ms-atur, dari berbagai sumber.
Selengkapnya...

Pendiri pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, ini dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.


Karya dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).



Kakeknya, Kiai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.
Semenjak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Hasilnya, ia diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kepandaian yang dimilikinya.
Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Di pesantren Siwalan ia belajar pada Kyai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.
Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekah. Di sana ia berguru pada Syeh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis.
Dalam perjalanan pulang ke tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng, menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.
Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bidat. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari.
Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.
Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama, tetapi ditolaknya.

Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy’ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng.

Sesudah Indonesia merdeka, melalui pidato-pidatonya Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat para pemuda supaya mereka berani berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 karena pendarahan otak dan dimakamkan di Tebuireng. ►e-ti/ms-atur, dari berbagai sumber.
Selengkapnya...

Pendobrak Pemikiran Tradisional NU


Sosoknya sangat bersahaja. Bicaranya tenang, lugas, tidak berpretensi mengajari. Padahal KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudz sangat disegani. Dia dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-2009) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2000-2010.


Pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII (28/7/2005) Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), itu terpilih kembali untuk periode kedua menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) masa bakti 2005-2010.



Pada Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Donohudan, Boyolali, Jateng., Minggu (28/11-2/12/2004), dia pun dipilih untuk periode kedua 2004-2009 menjadi Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU).



Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya dia dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PB NU, mengetuai lembaga yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 30-an juta orang itu.

KH Sahal yang sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai tahun 2005.


Di luar itu, KH Sahal adalah pemimpin Pondok Pesantren (Ponpes) Maslakul Huda sejak tahun 1963. Ponpes di Kajen Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910.

Dalam Muktamar NU ke-31 di Bayolali itu, pemilihan Rois Aam dan Ketua Umum, sesuai tata tertib syogianya dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pencalonan dan tahap pemilihan. Calon Rais Aam dan Ketua Umum dianggap sah apabila mendapat dukungan minimal 99 suara dari 465 suara muktamirin. Apabila hanya ada satu calon yang mencapai minimal 99 suara, calon tersebut bisa disahkan secara bulat atau aklamasi.

Dalam tahap pencalonan Rais Aam pada Muktamar NU ke-31, ini peserta muktamar mengajukan tujuh nama. Setelah dilakukan pemungutan dan penghitungan suara, KH Sahal Mahfudh mendapat 363 suara, KH Abdurrahman Wahid 75 suara, KH Hasyim Muzadi 5 suara, Said Agil Siradj 1 suara, Alwi Shihab 2 suara, KH Mustofa Bisri 3 suara, dan Rahman S 1 suara. Satu suara abstain dan satu suara tidak sah. Sehingga sesuai tata tertib, peserta muktamar secara aklamasi menerima Sahal Mahfudh sebagai Rais Aam.

Pertama kali, KH Sahal Mahfudz terpilih sebagai Ketua Rais Aam dalam Muktamar XXX NU di Lirboyo, Kediri, 26 November 1999. Ketika itu KH Sahal antara lain mengatakan, sejak awal berdirinya NU, warga NU yang merupakan bagian dari masyarakat madani berada pada kutub yang berseberangan dengan negara, dan KH Sahal mencoba mempertahankan tradisi tersebut. Saat itu, konteksnya adalah naiknya KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI.

Pemimpin Ponpes Maslakul Huda, Rais Aam PB NU dan Ketua Umum MUI, KH Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Dia juga tidak sependapat dengan adanya keinginan sebagian orang untuk menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Menurutnya, hal itu tidak perlu. Sebab, mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, tidak berarti perlu piagam. “Argumentasi itu malah ironis. Karena mayoritas sudah Muslim, maka mayoritas sudah akan melaksanakan syariat Islam sendiri-sendiri. Bila memang harus diatur pemerintah, yang kena aturan itu hanya orang Islam saja,” katanya.

Dia pun menyatakan pemerintah tidak perlu ikut campur dalam hal agama. Menurutnya, pemerintah sebagai pengayom memang bertanggung jawab, berhak, dan berkewajiban membina, memberi fasilitas untuk semua agama, tetapi jangan intervensi terlalu jauh sebab itu hubungan manusia dengan Tuhan.
Alasannya, katanya, agama itu tidak berorientasi pada kekuasaan, tidak ingin agama lebih dominan dari agama, tetapi juga negara jangan lebih dominan dari agama, memakai agama sebagai justifikasi. Agama itu harus mandiri.

Sementara perihal Pancasila, dia menyatakan itu bukan ciri, tetapi visi. “Identitas artinya ciri intrinsik yang melekat pada sesuatu yang dicirikan. Identitas bangsa banyak dibicarakan orang, tetapi tidak banyak dikupas. Bila identitas bangsa sudah ditetapkan, daerah boleh memiliki ciri khasnya dengan koridornya tetap identitas bangsa.

Dia mencontohkan daerah yang mayoritasnya Muslim yang ingin menerapkan ciri khas Islam, itu tidak mudah. Hal itu, menurutnya, perlu persiapan panjang karena setelah syariat semuanya harus tunduk pada syariat Islam. Sebab, bagaimana dengan penduduk yang bukan Muslim? Apa hukum yang dipakai untuk mereka? Bila hal ini tidak jelas, akan menimbulkan konflik, ada isolasi karena perbedaan agama. Menurutnya, ini tidak boleh, karena keragaman agama itu juga dibenarkan oleh Islam.

Begitu pula soal globalisasi. Menurutnya, hal itu keniscayaan. “Siapa bisa menolak?’ tanyanya. Globalisasi , jelasnya, akan menimbulkan perubahan sikap hidup dan peri laku masyarakat. Sementara, di Indonesia sekarang yang menonjol konsumtivisme. Ini, antara lain, dampak iklan. Dalam hal ini, serunya, mental secara ekonomis harus ditanamkan. Mental ekonomis yang bagus itu seperti mental singkek, pedagang Cina yang ulet. Dia sama sekali tidak konsumtif melainkan hemat, dari nol, setelah kaya pun tidak menyombongkan kekayaannya, ulet.

KH Sahal dilahirkan di Pati 17 Desember 1937. Hampir seluruh hidupnya dijalani di pesantren, mulai dari belajar, mengajar dan mengelolanya. KH Sahal hanya pernah menjalani kursus ilmu umum antara 1951-1953, sebelum mondok di Pesantren Bendo, Kediri (JAtim), Sarang, Rembang (Jateng), lalu tinggal di Mekkah selama tiga tahun.

Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Selain memiliki 500-an santri, Ponpes Maslakul Huda juga punya sekolah madrasah ibtidaiyah sampai madrasah aliyah dengan 2.500-an murid, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Arta Huda Abadi yang lima tahun lalu berdiri, koperasi, rumah sakit (RS) umum kelas C RS Islam Pati, memberi kredit tanpa bunga kelompok usaha mikro dengan dana bergulir, mengajar masyarakat membuat "asuransi" kesehatan dengan menabung setiap rumah tangga tiap bulan di kelompoknya, dan banyak lagi.

KH Sahal yang menikah dengan Dra Hj Nafisah Sahal dan berputra Abdul Ghofar Rozin (23), dilahirkan di Kajen, Pati, pada tanggal 17 Desember 1937. KH Sahal juga seorang intelektual yang ditunjukkan melalui tulisannya antara lain buku-buku Al Faroidlu Al Ajibah (1959), Intifakhu Al Wadajaini Fie Munadohorot Ulamai Al Hajain (1959), Faidhu Al Hijai (1962), Ensiklopedi Ijma' (1985), Pesantren Mencari Makna, Nuansa Fiqih Sosial, dan Kitab Usul Fiqih (berbahasa Arab), selain masih menulis kolom Dialog dengan Kiai Sahal di harian Duta Masyarakat yang isinya menjawab pertanyaan masyarakat.

KH Sahal yang punya koleksi 1.800-an buku di rumahnya di Kajen, sudah lebih 10 tahun menjadi Rektor Institut Islam NU di Jepara.


BPR Arta Huda Abadi
Di pesantren ia punya lembaga khusus, Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, berdiri tahun 1977 sampai sekarang, yang menangani pengembangan masyarakat dari sisi menciptakan pendapatan, kesehatan, dan pendidikan.
Mula-mula membina perajin kerupuk yang di sana disebut kerupuk tayamum karena digoreng pakai pasir.

Hampir seluruh tetangga pesantrennya pada tahun 1977 itu bikin kerupuk. Modalnya Rp 5.000, itu pun sudah terlalu banyak. Ia beri pinjaman bergulir tak berbunga. Modalnya dari saldo kegiatan internal pesantren seperti kegiatan belajar-mengajar, dari SPP, sedikit demi sedikit dikumpulkan.

Ia jua memberikan kepada kelompok supaya ada kerja bersama, kerja kooperatif, karena mereka terlalu gurem. Mereka mencicil tiap minggu, setelah terkumpul Rp 5.000 diberikan kepada kelompok baru. Usaha mereka berkembang dan kemudian banyak yang merasa usaha itu terlalu kecil. Mereka pindah usaha. Karena usaha mereka semakin besar, perlu dana lebih banyak. Lalu ia mencoba membantu dengan mendirikan BPR Arta Huda Abadi pada tahun 1997.

Modal awalnya pada masa itu cukup Rp 50 juta, juga dikumpulkan dari dana pesantren sendiri yang merupakan pemegang saham terbesar, tetapi BPR juga melibatkan alumni pesantren yang berminat mengembangkan BPR ini.

Tahun 2002 asetnya sudah lebih dari Rp 10 milyar, dan terus berkembang. Sudah punya kas pembantu di Kota Juwana, Kota Pati, dan daerah perbatasan Jepara-Pati. Kantor pusatnya di Kajen, di dekat pesantren Maslakul Huda.

Pesantren juga punya koperasi yang sudah lima bulan mengembangkan Unit Simpan-Pinjam Syariah yang sistem simpan-pinjamnya bagi hasil. Di daerah sekitar Pati, ini adalah koperasi syariah pertama. Modalnya juga berbentuk saham milik pesantren, staf koperasi, dan alumni. Wartel pun sahamnya kami bagi-bagi, tidak cuma pesantren. Prinsipnya, rezeki itu jangan dipek (dihaki) sendiri.

Ketika ada program Jaring Pengaman Sosial saat krisis ekonomi tahun 1997-1998, ada bantuan beras dari Jepang. Pesantren Maslakul Huda termasuk yang kebagian jatah membagi beras untuk orang miskin. Ia terima, dengan syarat tidak mau hanya membagi. Bila hanya membagi akan membuat mereka jadi lebih tergantung.

Maka ia meminta mereka membentuk kelompok, tiap sepuluh keluarga jadi satu kelompok. Ada kira-kira 176 kelompok. Setiap keluarga dalam kelompok diminta menabung setiap hari, besarnya terserah kesepakatan anggota kelompok. Rata-rata per keluarga bisa menabung Rp 1.000 per hari. Itu tabungan milik mereka, mereka urus sendiri, dan setor sendiri ke BPR atas nama kelompok.

Setelah proyek selesai dalam tiga bulan, masing-masing kelompok rata-rata punya tabungan Rp 900.000. Ini lalu dipakai modal usaha kelompok. Jumlahnya ratusan kelompok, kebanyakan ibu-ibu.

Ketika pihak Jepang dilapori, mereka terkejut. Lalu mereka bertanya, apa keinginannya selanjutnya. Ia katakan, ingin mereka dibina sebagai kelompok usaha. Pihak Jepang bersedia membantu biaya pelatihan Rp 500.000 per kelompok. Pelatihan disesuaikan kebutuhan kelompok, tetapi rata-rata minta pelatihan pembukuan keuangan karena akan berhubungan dengan bank nantinya.

Selesai dilatih, pihak Jepang masih menambah bantuan Rp 500.000 per kelompok untuk modal. Jadi, tiap kelompok rata-rata punya Rp 1,4 juta, kalau dipakai untuk kulakan bayam uangnya sudah bisa bergulir.

Ada kelompok perkebunan, ada kelompok rambutan binjai. Di sana rambutan binjai tumbuh bagus dan sudah panen berkali-kali. Ada kelompok tani kacang tanah yang memasok ke Kacang Garuda karena kami punya kerja sama. Lalu ada kelompok tani singkong tepung tapioka.

Pesantren hanya memotivasi dan membimbing, tetapi untuk yang teknis pesantren memanggil ahlinya. Misalnya, untuk pengolahan limbah cair tapioka, mengundang Universitas Diponegoro.

Dalam membina petani tersebut, pesantren menggunakan pendekatan dari bawah. Ditelusuri apa kebutuhan dasar mereka dengan bertemu dengan tokoh masyarakat, dan mencari tahu apa kesulitan mereka. Lalu dicarikan solusi, kemudian didiskusikan dengan masyarakat. Pendekatannya begitu. Ia mau masyarakat berdiskusi terbuka, dan mereka juga menyampaikan pikirannya. Tidak cuma inggih-inggih.

Ia memang tidak hanya mengurusi pesantren. Tetapi juga sangat peduli kepada kepentingan masyarakat luas di luar pesantren. Menurutnya, hal itu aplikasi ajaran Islam bahwa manusia yang terbaik adalah yang banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Selain itu, kegiatan semacam ini otomatis memberi laboratorium sosial bagi santri. Mereka langsung berinteraksi dengan masyarakat.

Sebenarnya pesantren dari dulu tidak pernah ada jarak dengan masyarakat, selalu menyatu, dalam bidang dakwah. Bidang dakwah ini selalu terfokus pada ritual. Bidang-bidang di luar ritual belum banyak disentuh. Bukankah harus ada keseimbangan antara ritual dan material? Cobalah bidang di luar ritual itu juga disentuh sebagai bagian dari aplikasi ajaran, dan karena kita dianjurkan untuk juga berikhtiar. Tidak hanya mengharapkan (bantuan), tangan di bawah. Lalu ia mencoba, ia kumpulkan teman-teman, dan mereka setuju. ► mlp, dari berbagai sumber, di antaranya PB NU dan Kompas
Selengkapnya...

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri,
yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.


Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa
ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan)
Selengkapnya...

Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri,
yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.


Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa
ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan)
Selengkapnya...

Setiap menyebutkan trahnya, dia bangga berada dalam garis keturunan Ki Ageng Wiro Lawe, Rengel. Konon, Wiro Lawe ini masih ada hubungan darah dengan Ranggalawe, yang dalam buku sejarah sekolah dikenal sebagai pemberontak Majapahit. Namun menurutnya, sebutan sebagai pemberontak ini bukan hal yang aib, karena yang diberontak adalah birokrasi (rezim) dan bukan nasionalisme. Justru orang yang ingin dikendalikan oleh Ranggalawe malah jadi pemberontak, yaitu Sura dan Kuti. Konon, Ranggalawe itu adalah korban intrik Kraton. Kebo Anabrang yang saat itu menjadi jagoan Majapahit, tahu betul bahwa posisi Ranggalawe benar.


Dalam buku sejarah disebutkan, bahwa Ranggalawe, Sora dan Nambi adalah teman seperjuangan Raden Wijaya ketika merintis berdirinya kerajaan Majapahit. Ketika Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit, Ranggalawe menjadi Adipati Tuban, Sora menjadi penguasa di Daha (Kediri), sedangkan Nambi menjabat sebagai perdana menteri di istana. Tampak di sini, Nambi menduduki jabatan kelas satu dalam hirarki Majapahit, lebih tinggi dari kedua rekannya yang lain. Ranggalawe tidak puas dengan kebijakan raja terhadap mereka bertiga. Pada tahun 1295 Masehi, timbullah pemberontakan dari Ranggalawe. Pada tahun itu juga, Ranggalawe gugur di tangan Kebo Anabrang, dalam suatu pertempuran antara pasukan Tuban dan pasukan kerajaan. Namun kemudian Kebo Anabrang dibunuh oleh Sora karena tidak tega menyaksikan kematian sahabatnya itu.

Disamping itu, Thalib bangga menjadi pengagum Sunan Kalijaga. Hal ini ada hubungannya dengan Islam sebagai agamanya. Thalib berkata, “bukan karena kebetulan sekarang saya beragama Islam, tetapi kalau toh saya memiliki kebebasan untuk memilih agama, maka yang saya pilih adalah Islam.” Dia sudah pelajari semuanya, lantas menemukan betapa dalam bacaan sholat Takhiyat Akhir dikandung makna yang dalam. Disebutkan dalam bacaan tersebut ditemukan urutan yang menarik, yaitu pertama-tama kita menyebut nama Allah, kemudian Nabi, menghormati orang-orang yang saleh, baru kemudian pernyataan terhadap Islam, yaitu bacaan kalimat syahadat. Pertanyaannya, mengapa tidak kalimat syahadat yang didahulukan? Itu artinya, menghormati orang-orang yang saleh harus lebih didahulukan ketimbang pernyataan bahwa “saya Islam”. Ini sebuah sikap rendah hati yang mengagumkan. Tidak ada rasa sombong sedikitpun. Karena itu, katanya, merupakan hal yang mengherankan manakala menemukan orang-orang yang mengaku saleh namun sikapnya sombong.

Perihal sosok Sunan Kalijaga atau Raden Said alias Pangeran Tuban, dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta/Raden Sahur. Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Ia memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, sangat toleran pada budaya lokal, karena menurutnya bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, maka kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Ratu. Bahkan lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid juga diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Akan halnya kedua orangtua Thalib sendiri, disebutkan sebagai pengikut Islam, namun sebagaimana orang Jawa pada umumnya, mereka juga membakar dupa misalnya. Paduan antara Islam dan Kejawen inilah yang kemudian menyatu dalam diri seorang Thalib Prasojo sebagaimana yang, menurut Thalib, ada dalam diri Sunan Kalijaga. Namun kenyataannya, banyak orang yang mengaku Kejawen yang nggladrah, misalnya ketika berhadapan dengan keris malah cenderung melakukan pemujaan, sementara sikap Thalib adalah kekaguman terhadap keris sebagai karya seni rupa. Sebagai warisan budaya, keris memang harus dijaga dan dilestarikan. Justru bersikap mengkultuskan benda pusaka oleh sebagian orang membuat masyarakat kebanyakan akhirnya malah menjauhi benda pusaka itu sendiri karena takut dianggap sirik. Keris memang perlu dilestarikan namun sebagai benda pusaka yang punya nilai seni tinggi, bukan karena kekuatan supranaturalnya. Banyak orang yang tertipu karena melihat keris sebagai benda supranatural. Karena itulah penyucian (penjamasan) keris yang biasanya dilakukan setiap menjelang bulan Suro itu, bagi Thalib, pada prinsipnya tidak lebih dari sebuah cara untuk menghilangkan karat dari mata keris agar awet. Tidak diperlukan ritual khusus, seperti lelaku atau membuat sajen misalnya. Kalau toh di kemudian hari diketahui ada keris yang bertuah, itu urusan nanti. Sama halnya dengan batu kerikilpun bisa juga memiliki tuah, tetapi apakah lantas semua kerikil harus dipuja? Karena sikapnya terhadap keris yang seperti itulah maka dia tak diundang dalam acara-acara jamasan keris bersama.

Meski demikian, setiap kali menjelang bulan Suro, selalu saja banyak orang yang memintanya untuk mencuci keris atau benda pusaka lainnya. Memang banyak kolektor keris yang tidak bisa mencuci keris sendiri, kemudian datang pada Thalib karena dianggapnya mampu mencuci keris dengan benar. Tentu tidak gratis. Kemampuan menjamas ini sudah dimiliki Thalib sejak masih anak-anak, karena diajari ayah angkat sekaligus guru spiritualnya, Wiroprasojo. Sementara Thalib sendiri melakukan jamasan terhadap puluhan koleksi benda pusakanya tidak harus menjelang bulan Suro, setiap saat bisa dilakukan. Soal tradisi jamasan menjelang Suro itu, menurut Thalib, merupakan kebiasaan yang sengaja diciptakan agar orang tidak lupa untuk melakukannya secara teratur.

Perihal sosok Wiroprasojo, Thalib punya penilaian sendiri. Perkenalannya berawal ketika Thalib remaja suka menjajakan wayang karton buatannya sendiri. Wiroprasojo mengagumi gambar wayang buatan Thalib tersebut. Hubungan antara penjual dan pelanggan itu yang kemudian berlanjut menjadi hubungan batin sehingga Thalib diangkat menjadi anaknya. Dalam perkembangannya, akhirnya Wiroprasojo memang bukan sekadar ayah angkat, melainkan guru spiritual yang banyak memberikan ilmu batin pada Thalib.

Pada saat menjalani kewajiban ikatan dinas sebagai guru, Thalib sudah terbiasa hidup prihatin. Makan nasi hanya sak lepek tapi sayurannya sepiring. Karena itulah sampai sekarang kalau lihat sayur tewel (nangka muda) masih merasa mblenger karena itu dulu yang menjadi sayurnya, hampir tiap hari. Lauknya ikan klothok. Dalam kondisi seperti itulah dia mendapatkan gemblengan kanuragan. Gemblengan yang didapatnya antara lain, puasa selama 40 hari, juga badan dipukuli dengan besi, dan semacam itu. Pada jaman itu, tentara yang maju perang saja, meski sudah membawa bedhil tapi masih membawa rajah.

Sedangkan dari guru yang satunya, Kyai Mugi, Thalib lebih banyak mendapatkan filsafat pengetahuan. Misalnya, mempertanyakan huruf ba’ dalam bacaan Basmallah. Penguasaan terhadap Islam dipelajari secara mendalam tanpa harus bersikap fanatik dari gurunya yang satu ini. Ajaran dari dua gurunya ini ibarat tumbu oleh tutup. Disamping itu, secara genetik Thalib merasa sudah mendapat bekal ilmu serupa yang menitis dalam darahnya. Dia merasa cocok. Sebab, kalau tidak, sudah lama ilmu itu tak bisa masuk dalam dirinya. Itulah yang pernah dialaminya ketika Thalib belajar ilmu klenik dan semacamnya, secara otomatis tak bisa merasuk dalam dirinya. Dari dua orang guru spiritualnya, Thalib mendapatkan pelajaran mahal: Bahwa orang tidak berbohong itu tidak bisa, tapi jangan kebanyakan berbohong. Nabi Adam sampai turun ke bumi juga karena berbohong. Kita ini keturunan Adam, keturunan orang yang berbohong. Karena itu, boleh-boleh saja bohong, tapi jangan terlalu banyak. Lebih bagus lagi, jangan terbiasa (kulino) berbohong. Selain itu, jangan bersikap mentang-mentang.

Sikap kejawennya ini pula yang mendasari kerja keseniannya. Banyak karya-karya lukisnya yang berawal dari ilham yang didapatkannya dari makam atau tempat-tempat keramat lain. Dia pernah semedi di makam Imogiri, Bantul, untuk mendapatkan ilham lukisannya. Makam Imogiri memang dikenal sebagai areal yang gaib. Di situlah raja-raja Mataram dan kerabat Kraton Yogyakarta dimakamkan. Makam itu terletak di puncak bukit kapur, berada di tapal batas wilayah Yogyakarta dan Surakarta, dan berada di pesisir Laut Kidul. Thalib semedi pada saat malam satu Suro bersama sejumlah temannya. Waktu itulah terasa ada sesuatu yang berkelebat di depannya lalu menuju pintu masuk makam raja-raja. Penasaran dengan pengalamannya tersebut, keesokan harinya, dia menemui juru kunci dan memperoleh jawaban bahwa yang berkelebat itu adalah Nyai Kopek. Maksudnya, seekor macan betina yang konon dipelihara oleh salah satu Raja Mataram, yaitu Panembahan Senopati.

Tentu saja Thalib merasa senang mendapatkan pengalaman gaib tersebut. Menurut penjelasan juru kunci, barang siapa yang dalam semedinya dapat melihat benda putih masuk gerbang makam raja-raja, berarti mendapat pangestu dari leluhur. Artinya, semedinya berhasil dan direstui. Mungkin, bagi orang lain, restu tersebut diartikan sebagai permintaannya terkabul. Namun bagi Thalib pengalaman langka itu adalah sebuah ilham untuk membuat lukisan. Maka setibanya kembali di rumah, dia menyiapkan peralatan dan melukis berdasarkan hal itu dan jadilah lukisan “Nyai Kopek dari Imogiri.” Butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikannya.
Selengkapnya...

Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.


Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir.

Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830
16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen, Purworejo. Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Lukisan Persitiwa Pengkapan Pangeran Diponegoro oleh VOC28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro.

Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April. 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.

30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.

lokasi makam Pangeran Diponegoro di Jl. Diponegoro Makassar, Sulawesi Selatan. Juli 2008 Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.

Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan Belanda. Ki Sodewo kecil atau Bagus Singlon tumbuh dalam asuhan Ki Tembi, orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Bagus Singlon atau Raden Mas Singlon atau Ki Sodewo setelah remaja menyusul ayahnya di medan pertempuran. Sampai saat ini keturunan Ki Sodewo masih tetap eksis dan salah satunya menjadi wakil Bupati di Kulon Progo bernama Drs. R. H. Mulyono.

Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.
Latar belakang

Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog), adalah perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan penjajah Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun jiwa. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu Belanda, korban tewas berjumlah 8.000.

Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.

Setelah kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.

Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton.

Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Beliau kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut.

Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda —yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran.

Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati“; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.
PERANG DIPONEGORO

PERANG JAWA DISEBABKAN OLEH FAKTOR SOSIOBUDAYA.

LATAR BELAKANG PERANG:

Perang Diponegoro atau dalam bahasa Belanda dikenali dengan istilah “De Java Qorlog” merupakan suatu perang yang besar. Perang ini berlangsung selama lima tahun iaitu antara tahun 1825 hingga 1830 yang bernama Pangeran Diponegoro.Dalam perang ini juga, Pangeran Dipornegoro dibantu oleh pahlawan-pahlawan hebat yang lain seperti pahlawan Mangkubumi, Kyai Modjo dan Sentot Prawirodirdjo.

[3] Perang ini juga akhirnya telah melibatkan pelbagai korban yang bukan sahaja harta-benda bahkan juga nyawa manusia. Berdasarkan dokumen-dokumen Belanda, perang tersebut telah mengorbankan 200 000 nyawa masyarakat peribumi manakala 8000 nyawa terkorban di pihak Belanda. Perang ini dikenali sebagai “Perang Jawa” kerana peperangan ini melibatkan hampir seluruh wilayah Jawa. Maka dengan itu, istilah “Perang Jawa” diaplikasikan.

3.0 FAKTOR-FAKTOR TERCETUSNYA PERANG JAWA:

Terdapat beberapa faktor tertentu yang menyebabkan berlakunya Perang Jawa. Perang ini dilihat bermula daripada masalah ataupun konflik dalaman Keraton Yogyakarta. Ketegangan timbul ketika Sultan Hamengkubuwono II memecat dan menggeser pegawai keraton dan bupati-bupati yang dahiulu dipilih olehSultan Hamengkubuwono

I.[4] Sultan Hamengkubuwono II menginginkan pemerintahan yang kuat dan dibantu oleh orang-orang yang dekat dengan beliau. Justeru itu, beliau telah melantik pebantu-pebantunya dari kalangan menantunya. Contohnya, Raden Adipati Danu Rejo II sebagai patih, Raden Temenggung Sumodinigerat sebagai Wedana Lebet dan Raden Ronggo Prawiroderjo III sebagai bupati Wedana Monconegoro Timur.

[5] Hal ini menyebabkan banyak pegawai yang berpengalaman sebelum ini telah dipecat. Perkara ini menyebabkan Kanjeng Ratu Ageng telah menasihati Sultan terhadap tindakannnya. Namun begitu, nasihatnya tidak diendahkan oleh Sultan. Golongan-golongan ini dilihat seringkali disisihkan dan dipinggirkan dalam soal pemerintahan dan pentadbiran. Hal ini secara tidak langsung membuka peluang kepada pihak Belanda untuk campur tangan berikutan perpecahan yang berlaku dalam Keraton. Sesungguhnya Belanda dapat mempertahankan kekuasaannya dan mengembangkan pengaruh serta kolonialisme dengan cara yang licik sekali dan dengan kemahirannya mempergunakan konsep politik “divide and rule” iaitu suatu konsep politik yang mengadu domba bangsa Jawa dengan semboyan “pecah dan perintah”.

[6] Oleh itu, golongan-golongan yang tersisih ini akhirnya meminta bantuan kepada Putera Mahkota iaitu ayah Pangeran Dipornegoro. Walau bagaimana pun, Kanjeng Ratu Ageng akhirnya bersama cucunya menigggalkan Keraton dan menetap di desa Tegalrejo. Namun begittu, konflik masih terus berlaku terutamanya apabila Dipornegoro sudah besar. Konflik ini berlaku sekitar tahun 1792. Konflik ini melibatkan Sultan Hamengkubuwono II dan Putra Mahkota iaitu Pangeran Adipati Amangkunagoro serta akhirnya melibatkan Diponegoro. Hal ini bermula gara-gara keputusan Residen Baron de Salis yang telah bersetuju mengangkat Pangeran Menol yang masih berusia tiga tahun sebagai Sultan Hamengkubuwono V untuk menggantikkan Sultan Hamengkubuwono IV yang meninggal dunia secara tiba-tiba.

[7] Hal ini berlaku pada tahun 1822. Perkara ini akhirnya menyebabkan Diponegoro terasa terhina kerana terpaksa akur dan menghormati serta menyembah pemimpin yang masih kecil. Menurut tatatertib adat keraton, setiap pangeran sememangnya diwajibkan agar menyembah sultan dalam segala upacara atau urusan rasmi. Perkara ini bersesuaian dengan kepercayaan masyarakat Jawa yang menganggap sultan sebagai penguasa yang tertinggi yang ditakdirkan Tuhan kerana mendapat wahyu kerajaan. Disebabkan, Sultan Hemengkubuwono V masih kecil untuk memerintah negara, maka satu dewan perwalian dibentuk bagi menjalankan pemerintahan.

[8] Antara anggota dewan itu ialah terdiri daripada Permaisuri Sultan III, Pangeran Mangku Bumi dan Pangeran Dipornegoro. Walaupun, Pangeran Dipornegoro merupakan ahli dewan, namun Dipornegoro jarang diajak atau dilibatkan secara khusus dalam soal pentadbiran dan pemerintahan. Contohnya, Pangeran Dipornegoro telah menyatakan masalah rakyat berkenaan isu penyewaan tanah kepada pihak Keraton namun usahanya itu hanya sia-sia sahaja kerana tidak mendapat sambutan dan layanan yang baik daripada pihak Keraton.[9] Akhirnya, Pangeran Dipornegoro meningggalkan ahli dewan dan jarang terlibat dalam sebarang usaha pemerintahan dan pentadbiran Keraton lagi. Walaupun Sultan Hamengkubuwono V diiktiraf sebagai sultan, namun perkara ini hanya terletak pada gelarannya sahaja tetapi tidak pada hakikatnya. Hakikatnya, pemerintahan dijalankan oleh Patih Danuredjo. Patih Danuredjo ini pula merupakan seorang yang mudah dipengaruhi dan sentiasa akur pada arahan dan perintah Belanda.

Faktor lain yang menyebabkan berlakunya Perang Jawa ialah disebabkan ketamakan dan kerakusan Belanda di Jawa. Setelah kekalahan Belanda dalam Perang Napoleon di Eropah, Belanda telah mengalami krisis kewangan yang sangat serius dan berat. Hal ini berikutan perbelanjaan perang yang banyak serta kerugian yang besar yang mereka alami setelah kalah dalam Perang Napoleon.

[10] Hal ini seterusnya mendorong Belanda untuk menjalankan pelbagai pajakan di wilayah jajahannya termasuk jugalah di Hindia Belanda. Melalui dasar baru yang diperkenalkan Belanda ini, orang asing dibolehkan menyewa tanah masyarakat peribumi tempatan secara meluas. Tanah yang disewakan ini tidak terbatas pada tanah pertanian sahaja, bahkan jalan raya juga disewakan untuk diambil hasilnya iaitu dengan menarik pajak kepada semua barang-barang muatan yang dibawa melalui jalan itu.

[11] Menurut S. Pragg, terdapat 34 jenis pajakan yang harus dibayar oleh rakyat.

[12] Selain sistem pajakan dan sistem penyewan tanah yang membebankan rakyat, terdapat beberapa sistem lain yang amalannya kelihatan menyusah dan menindas rakyat. Misalnya, seperti pengamalan sistem pembayaran bea. Sistem ini sememangnya memberikan bebanan yang cukup besar dalam kehidupan masyarakat peribumi. Hal ini kerana orang-orang yang melalui daerah para bewan (tolgaarders) harus membayar bea untuk barang-barang yang dibawanya.

[13] Pada awalnya, jumlah beawan-beawan ini tidaklah sebegitu banyak, namun begitu setelah melihat perniagaan ini mendatangkan untung yang lumayan maka jumlah beawan-beawan ini semakin hari semakin meningkat. Pemerintah Kolonial biasanya menyewakan “daerah bea cukai” kepada masyarakat Tiong Hua yang terkenal sebagai beawan dengan harga yang tinggi. Perlaksanaan sistem ini juga kelihatannya mengikis sedikit demi sedikit sikap perikemanusiaan dalam diri manusia.

[14] Hal ini dapat dibuktikan, apabila anak-anak kecil yang didukung oleh ibu mereka juga turut dikenakan bayaran bea. Mereka menganggap anak-anak kecil ini juga tidak lebih sebagai barang bawaan yang harus dikenakan cukai. Terdapat juga para pemungut bea yang kejam sehingga sanggup bertindak di luar batas kesopanan dan kesusilaan sehingga berani menggeledahi barang-barang dan memeriksa tubuh badan setiap orang yang melalui kawasan mereka. Selain itu juga, Belanda turut mengamalkan dasar monopoli yang akhirnya menyeksa dan menindas masyarakat Hindia Belanda termasuk tanah Jawa.

[15] Selain itu, antara faktor lain yang menyebabkan berlakunya Perang Jawa adalah masalah penyewaan tanah milik Keraton Yogyakarta dan Surakarta oleh pemerintah Hindia-Belanda serta juga disebabkan oleh faktor budaya. Pada masa pemerintahan adiknya iaitu Hamengkubuwono IV, terdapat banyak golongan bangsawan yang memperoleh harta kekayaan yang banyak yang akhirnya menyebabkan mereka menjadi kaya secara tanpa disangka.

[16] Kebanyakan bangsawan ini memperoleh kekayaan yang banyak kesan hasil penyewaan tanah yang mereka jalankan. Perkara inilah yang menyebabkan para bangsawan lebih gemar hidup mengamalkan gaya hidup mewah dan kaya yang diadaptasikan daripada gaya kehidupan pemerintah Belanda. Mereka iaitu golongan bangsawan ini kelihatannya mula menagung-agungkan nilai dan norma-norma masyarakat Belanda tetapi sebaliknya meninggalkan nilai dan norma-norma kehidupan masyarakat Jawa dan Islam. Contohnya, kebanyakan bangsawan sudah mula gemar menganjurkan pesta-pesta sehingga larut malam, meminum minuman keras yang memabukkan dan sebagainya.

[17] Fenomena ini sememangnya tidak disetujui oleh golongan tua kerana perlakuan dan perbuatan seperti ini “sudah terang lagi bersuluh” menyalahi adat istiadat Keraton selain upacara seperti ini hanya membazirkan wang negara. Perkara ini menjadi bertambah rumit dan serius apabila terdapat bangsawan yang bekerja di bawah Belanda menjalankan hubungan terlarang dengan gadis keraton secara sewenang-wenangnya. Sultan sendiri juga yang selau memakai gelaran Saiyidin Panatagama Khalifatullah dikatakan juga sudah terjerumus ke dalam jurang pengaruh barat.

[18] Demikianlah usaha-usaha pihak Belanda untuk melemahkan kekuatan raja dari dalam iaitu di samping menyingkirkan orang-orang yang dianggap berbahaya, dimasukkan juga unsur-unsur kebudayaan yang sifatnya sememangnya bercanggah dengan kebudayaan masyarakat tempatan. Dalam isu ini, Diponegoro kelihatannya begitu mengambil berat dan prihatin kerana beliau tidak mahu tanah airnya dicemari dengan kebudayaan songsang yang sememangnya bertentangan dengan kebudayaan masyarakat Jawa dan Islam. Hal ini juga terdorong oleh sifat Diponegoro yang begitu taat dan patuh pada hukum Islam. Pangeran Diponegoro merupakan seorang ulama (sentri) yang gemar membaca dan mendalami kitab-kitab yang bercorak agama, sejarah dan sastera.

[19] Beliau beranggapan bahawa berkuasanya orang asing terhadap tanah milik kerajaan iaitu melalui cara penyewaan tanah merupakan petanda atau alamat jatuhnya tanah Jawa ke tangan orang asing sehingga Jawa harus dirampas kembali dengan perang sabil. Selanjutnya, perang Jawa juga meletus disebabkan tindakan Belanda yang menjalankan penutupan jalan ke Tegalrejo dengan memasang pancang secara sengaja di tanah milik Diponegoro di Tegalrejo.-

[20] Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda ini adalah bertujuan untuk pembinaan jalanraya yang baru. Tambahan lagi, aktiviti ini dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh pemilik tanah. Tindakan pihak Belanda ini dijalankan melalui perantara arahan dari Pateh Danurejo IV yang sememangnya terkenal sebagai seorang Pateh yang sangat taat dan setia kepada kekuasaan pemerintah Belanda.

[21] Namun begitu, pancang-pancang itu telah dicabut dan dibuang oleh para pengikut Diponegoro. Pancang-pancang itu pula telah digantikan dengan tombak-tombak sebagai simbol penentangan atau protes mereka terhadap tindakan dan sikap pemerintah Belanda. Walaubagaimanapun, Residen Smissaert yang telah menggantikan Residen Baron de Salis telah memerintahkan anak buahnya agar pancang-pancang tersebut dipasang kembali.

[22] Keadaan menjadi semakin panas apabila pembinaan jalanraya tersebut turut melibatkan tanah perkuburan nenek-moyang mereka termasuk Diponegoro.[23] Walaupun pelbagai arahan dan amaran supaya kegiatan tersebut dihentikan, namun pemerintah Belanda masih juga degil dan tersu sahaja meneruskan aktiviti tersebut. Juruukur dan pembina jalanraya terus sahaja menjalanakan aktiviti pembinaan jalanraya yang baru tanpa mengendahkan protes dan tentangan daripada masyarakat tempatan. Isu inilah yang menyebabkan seluiruh masyarakat Jawa yang terdiri daripada pelbagai latar belakang iaitu bangsawan, kuli, buruh, pedagang, petanidan guru-guru agama bersatu dalam menuntut hak mereka. Seluruh pemimpin dan rakyat jelata disatukan dibawah slogan yang berbunyi “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati” yang bermaksud sejari kepala sejengkal tanah dibela samapi mati.[24] Perang ini juga dilihat sebagai perang memperjuangkan hak asasi masyarakat peribumi Jawa yang ditindas oleh Belanda. Di samping itu juga, Pangeran Dipornegorio menuntut agar Pateh Danureja IV dipecat akibat tindakannya yang menindas masyarakat Jawa. Namun begitu, Residen A. H. Smissaert membela pegawai tinggi Sultan yang setia kepada arahan Belanda.

[25] Perkara ini akhirnya telah merintis kepada berlakunya perang Jawa antara Belanda dengan masyarakat peribumi tanah Jawa.

4.0 PERJALANAN PERANG JAWA:

Pertempuran terbuka berlangsung dengan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri bertindak sebagai senjata utama dalam pertempuran. Pertempuran antara kedua-dua belah pihak iaitu masyarakat tempatan dengan Belanda berlaku dalam suasana yang begitu sengit sekali. Pertempuran juga melibatkan kebanyakan desa di seluruh tanah Jawa. Peperangan berlaku dengan cara iaitu sekiranya sesuatu kawasan itu ditakluki Belanda pada siang hari, maka pada malam hari, kawasan itu akan dirampas kembali oleh tentera peribumi tempatan.

Serangan-serangan masyarakat tempatan kerapkali dilancarkan pada bulan-bulan yang mengandungi musim hujan.

[26] Mereka mempercayai bahawa bekerjasama dengan alam merupakan suatu senjata yang ampuh untuk menghadapi tentera Belanda. Apabila musim hujan tiba, Gabenor Belanda akan menjalankan usaha-usaha gencatan senjata dan berunding. Hal ini kerana, musim hujan menyebabkan pergerakan tentera Belanda terbatas dan menjadi agak sukar. Keadaan menjadi semakin sukar apabila pelbagai penyakit merbahaya seperti malaria, disentri dan sebagainya muncul sebagi musuh yang tidak nampak bagi tentera Belanda. Apabila waktu gencatan senjata dijalankan, maka mata-mata pihak Belanda akan bergerak ke kampung-kampung untuk mendapatkan maklumat tentang musuh mereka selain ingin memecah-belahkan musuh mereka.

[27] Pada kemuncak peperangan, Belanda telah mengerahkan lebih 23 000 orang tentera untuk menghadapi tentera peribumi tempatan.

[28] Hal ini sememangnya suatu perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Belanda kerana menempatkan tentera yang sebegitu banyak dalam kawasan atau wilayah yang mempunyai keluasan yang tidaklah begitu luas. Dalam perang ini, pelbagai taktik dan startegi perang telah diaplikasikan. Contohnya seperti taktik perang terbuka (open warfare), perang gerila (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik “hit and run” dan penghadangan. Dalam perang ini juga, taktik parang saraf juga turut diaplikasikan. Oleh itu, dapat difahami bahawa dalam Perang Jawa pelbagai taktik dan startegi perang yang mirip kepada konsep perang moden telah digunapakai.

Pada tahun 1827, Belanda telah melakukan serangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga pasukan Diponegoro terjerat. Pada tahun 1829, Kyai Maja yang merupakan seorang pemimpin spiritual pemberontakan telah ditangkap. Seterusnya, Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah diri kepada Belanda.

[29] Akhirnya, pada 28 Mac 1830, Jeneral De Kock berjaya menawan pasukan Diponegoro di Mangelang.

[30] Diponegoro akhirnya bersetuju menyerah diri tetapi dengan syarat anggota askarnya dilepaskan. Maka dengan itu, Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Manado kemudian ke Makasar serta seterusnya meninggal dunia di Rotterdam pada 8 Januari 1855.

a. Latar Belakang Perlawanan Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo, putra Sultan Hamengku Buwono III. Karena pengaruh Belanda sudah sedemikian besarnya di istana maka Diponegoro lebih senang tinggal di rumah buyutnya di desa Tegalrejo.
Secara umum sebab-sebab perlawanan Diponegoro dan para pengikutnya adalah sebagai berikut:
1. Secara umum sebab-sebab perlawanan Diponegoro dan para pengikutnya adalah sebagai berikut:
2. Adat kebiasaan keraton tidak dihiraukan para pembesar Belanda duduk sejajar dengan Sultan.
3. Masuknya pengaruh budaya Barat meresahkan para ulama serta golongan bangsawan. Misalnya pesta dansa sampai larut malam, minum-minuman keras.
4. Para bangsawan merasa dirugikan karena pada tahun 1823 Belanda menghentikan sistem hak sewa tanah para bangsawan oleh pengusaha swasta. Akibatnya para bangsawan harus mengembalikan uang sewa yang telah diterimanya.
5. Banyaknya macam pajak yang membebani rakyat misalnya pajak tanah, pajak rumah, pajak ternak.

Selain hal-hal tersebut ada kejadian yang secara langsung menyulut kemarahan Diponegoro yaitu pemasangan patok untuk pembuatan jalan kereta api yang melewati makam leluhur Diponegoro di Tegal Rejo atas perintah Patih Darunejo IV tanpa seijin Diponegoro. Peristiwa tersebut menimbulkan sikap terang-terangan Diponegoro melawan Belanda.

Pejuang Berhanti Bersih

Dilahirkan dari keluarga Kesultanan Yogyakarta, memiliki jiwa kepemimpinan dan kepahlawanan. Hatinya yang bersih dan sebagai seorang pangeran akhirnya menuntunnya menjadi seorang yang harus tampil di depan guna membela kehormatan keluarga, kerajaan, rakyat dan bangsanya dari penjajahan Belanda.

Namun resiko dari kebersihan hatinya, ia ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, rekayasa perundingan. Namun walaupun begitu, beliau tidak akan pernah menyesal karena beliau wafat dengan hati yang tenang, tidak berhutang pada bangsanya, rakyatnya, keluarganya, terutama pada dirinya sendiri.

Kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan hati, kepemimpinan, kepahlawanan, itulah barangkali sedikit sifat yang tertangkap bila menelusuri perjalanan perjuangan Pahlawan kita yang lahir di Yogyakarta tanggal 11 November 1785, ini.

Pangeran Diponegoro yang bernama asli Raden Mas Ontowiryo, ini menunjukkan kesederhanaan atau kerendahan hatinya itu ketika menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono III untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat bunda yang melahirkannya bukanlah permaisuri.

Bagi orang-orang yang tamak akan kedudukan, penolakan itu pasti sangat disayangkan. Sebab bagi orang tamak, jangankan diberi, bila perlu merampas pun dilakukan. Melihat penolakan ini, sangat jelas sifat tamak tidak ada sedikitpun pada Pangeran ini. Yang ada hanyalah hati yang bersih. Beliau tidak mau menerima apa yang menurut beliau bukan haknya. Itulah sifat yang dipertunjukkannya dalam penolakan terhadap tawaran ayahnya tersebut.

Namun sebaliknya, beliau juga akan memperjuangkan sampai mati apa yang menurut beliau menjadi haknya. Sifatnya ini jelas terlihat jika memperhatikan sikap beliau ketika melihat perlakuan Belanda di Yogyakarta sekitar tahun 1920. Hatinya semakin tidak bisa menerima ketika melihat campur tangan Belanda yang semakin besar dalam persoalan kerajaan Yogyakarta. Berbagai peraturan tata tertib yang dibuat oleh Pemerintah Belanda menurutnya sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Sikap ini juga sangat jelas memperlihatkan sifat kepemimpinan dan kepahlawanan beliau.

Sebagaimana diketahui bahwa Belanda pada setiap kesempatan selalu menggunakan politik ‘memecah-belah’-nya. Di Yogyakarta sendiri pun, Pangeran Diponegoro melihat, bahwa para bangsawan di sana sering di adu domba Belanda. Ketika kedua bangsawan yang diadu-domba saling mencurigai, tanah-tanah kerajaan pun semakin banyak diambil oleh Belanda untuk perkebunan pengusaha-pengusaha dari negeri kincir angin itu.

Melihat keadaan demikian, Pangeran Diponegoro menunjukkan sikap tidak senang dan memutuskan meninggalkan keraton untuk seterusnya menetap di Tegalrejo. Melihat sikapnya yang demikian, Belanda malah menuduhnya menyiapkan pemberontakan. Sehingga pada tanggal 20 Juni 1825, Belanda melakukan penyerangan ke Tegalrejo. Dengan demikian Perang Diponegoro pun telah dimulai.

Dalam perang di Tegalrejo ini, Pangeran dan pasukannya terpaksa mundur, dan selajutnya mulai membangun pertahanan baru di Selarong. Perang dilakukan secara bergerilya dimana pasukan sering berpindah-pindah untuk menjaga agar pasukannya sulit dihancurkan pihak Belanda. Taktik perang gerilya ini pada tahun-tahun pertama membuat pasukannya unggul dan banyak menyulitkan pihak Belanda. Namun setelah Belanda mengganti siasat dengan membangun benteng-benteng di daerah yang sudah dikuasai, akhirnya pergerakan pasukan Diponegoro pun tidak bisa lagi sebebas sebelumnya. Disamping itu, pihak Belanda pun selalu membujuk tokoh-tokoh yang mengadakan perlawanan agar menghentikan perang. Akhirnya, terhitung sejak tahun 1829 perlawanan dari rakyat pun semakin berkurang. Belanda yang sesekali masih mendapatkan perlawanan dari pasukan Diponegoro, dengan berbagai cara terus berupaya untuk menangkap pangeran. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Diponegoro sendiri tidak pernah mau menyerah sekalipun kekuatannya semakin melemah.

Karena berbagai cara yang dilakukan oleh Belanda tidak pernah berhasil, maka permainan licik dan kotor pun dilakukan. Diponegoro diundang ke Magelang untuk berunding, dengan jaminan kalau tidak ada pun kesepakatan, Diponegoro boleh kembali ke tempatnya dengan aman. Diponegoro yang jujur dan berhati bersih, percaya atas niat baik yang diusulkan Belanda tersebut. Apa lacur, undangan perundingan tersebut rupanya sudah menjadi rencana busuk untuk menangkap pangeran ini. Dalam perundingan di Magelang tanggal 28 Maret 1830, beliau ditangkap dan dibuang ke Menado yang dikemudian hari dipindahkan lagi ke Ujungpandang.

Setelah kurang lebih 25 tahun ditahan di Benteng Rotterdam, Ujungpandang, akhirnya pada tanggal 8 Januari 1855 beliau meninggal. Jenazahnya pun dimakamkan di sana. Beliau wafat sebagai pahlawan bangsa yang tidak pernah mau menyerah pada kejaliman manusia.

jalannya peperangan
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.

Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.

Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Perang Diponegoro dan Perang Padri

Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat. Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi, yang belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825, dan babak II.

Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825, dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa. Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. Berakhirlah Perang Padri.

Dari: Wikipedia
Selengkapnya...

JADWAL SEMBAHYANG

Followers

Powered By Blogger